PEMBAHASAN
A. Latar Belakang
Penulisan artikel ini didasarkan pada
minat dalam membaca buku-buku yang menyangkut
berbagai hal mengenai masalah-masalah organisasi, khususnya buku yang
berjudul Organization Development and Change karangan Thomas G. Cummings dan
Edgar F. Huse yang edisi keempatnya diterbitkan pada tahun 1989. Tujuannya,
pertama adalah agar isi buku dapat dipahami dengan baik, sehingga upaya
penerjemahan atau tepatnya penyaduran dilakukan secara bertahap yaitu bab per
bab. Kedua, upaya melihat secara lebih dekat mengenai kinerja organisasi
melalui konsep yang dikemukakan di dalam buku tersebut. Oleh karenanya, upaya
objektifikasi hasil saduran dilakukan melalui seminar ilmiah intern di Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Terbuka, yang juga merupakan agenda
fakultas dalam meningkatkan kualifikasi staf akademik di bidang kajian dan
seminar ilmiah.
Memang, ada banyak hal yang menjadi
perhatian dalam konsep pengembangan organisasi, diantaranya yang menyangkut
rencana perubahan, diagnosa dan analisis, intervensi yang berkaitan dengan SDM
dan teknostruktural, juga yang menyangkut strategi intervensi dan evaluasi atas
pengembangan organisasi yang telah dilakukan.
Artikel ini merupakan paparan awal
mengenai pengembangan organisasi, dalam artian bagaimana (cara-cara)
mengembangkan organisasi, dengan mengetengahkan berbagai konsep dan hasil
intervensi yang disadur dari buku Organization Development and Change karangan
Thomas G. Cummings dan Edgar F. Huse yang edisi keempatnya diterbitkan pada
tahun 1989. Buku tersebut pada dasarnya menyoroti mengenai konsep-konsep yang
berkaitan dengan pengembangan organisasi. Berbagai kasus yang terjadi di berbagai
perusahaan besar di Negara-negara maju serta berbagai aplikasi teori-teori
pengembangan organisasi dalam upaya pembenahan kinerja organisasi yang dirasa
telah jenuh banyak dipapaparkan dalam buku tersebut. Barangkali kaitan yang
sangat relevan dengan buku ini adalah buku-buku lain yang juga menyoroti
mengenai pengembangan dan kinerja organisasi.
Kinerja
Keuangan Perusahaan : Pengertian dan Ukuran Kinerja Keuangan
A. Pengertian
Kinerja
Pengukuran kinerja merupakan analisis
data serta pengendalian bagi perusahaan. Pengukuran kinerja digunakan
perusahaan untuk melakukan perbaikan diatas kegiatan operasionalnya agar dapat
bersaing dengan perusahaan lain. Bagi investor informasi mengenai kinerja
perusahaan dapat digunakan untuk melihat apakah mereka akan mempertahankan
investasi mereka di perusahaan tersebut atau mencari alternatif lain. Selain
itu pengukuran juga dilakukan untuk memperlihatkan kepada penanam modal maupun
pelanggan atau masyarakat secara umum bahwa perusahaan memiliki kreditibilitas
yang baik (Munawir,1995 :85)
Pengukuran kinerja didefinisikan
sebagai “performing measurement“ (pengukuran kinerja) adalah kualifikasi dan
efisiensi perusahaan atau segmen atau keefektifan dalam pengoperasian bisnis
selama periode akuntansi. Dengan demikian pengertian kinerja adalah suatu usaha
formal yang dilaksanakan perusahaan untuk mengevaluasi efisien dan efektivitas
dari aktivitas perusahaan yang telah dilaksanakan pada periode waktu tertentu
(Hanafi,2003: 69).
Dalam bukunya Halim (2003: 17) yang
berjudul “Analisis Investasi ” menyebutkan bahwa ide dasar dari pendekatan
fundamental ini adalah bahwa harga saham dipengaruhi oleh kinerja perusahaan.
Apabila kinerja perusahaan baik maka nilai usaha akan tinggi. Dengan nilai usaha
yang tinggi membuat para investor melirik perusahaan tersebut untuk menanamkan
modalnya sehingga akan terjadi kenaikan harga saham . Sebaliknya apabila
terdapat berita buruk mengenai kinerja perusahaan maka akan menyebabkan
penurunan harga saham pada perusahaan tersebut. Atau dapat dikatakan bahwa
harga saham merupakan fungsi dari nilai perusahaan.
B. Ukuran
Kinerja
Ada tiga macam ukuran yang dapat
digunakan untuk mengukur kinerja secara kuantitatif yaitu:
a. Ukuran kriteria tunggal
Ukuran kriteria tunggal (single
criteria) adalah ukuran kinerja yang hanya menggunakan satu ukuran untuk
menilai kinerja manajer. Kelemahan apabila kriteria tunggal digunakan untuk
mengukur kinerja yaitu orang akan cenderung memusatkan usahanya pada kriteria
pada usaha tersebut sehingga akibatnya kriteria lain diabaikan, yang
kemungkinan memiliki arti yang sama pentingnya dalam menentukan sukses atau
tidaknya perusahaan.
b. Ukuran kriteria beragam
Ukuran kriteria beragam (multiple
criteria) adalah ukuran kinerja yang menggunakan berbagai macam ukuran untuk
menilai kriteria manajer. Kriteria ini mencari berbagai aspek kinerja manajer,
sehingga manajer dapat diukur kinerjanya dari beragam kriteria. Tujuan
penggunaan beragam ini adalah agar manajer yang diukur kinerjanya mengarahkan
usahanya kepada berbagai kinerja.
c. Ukuran kriteria gabungan
Ukuran kriteria gabungan (composite
criteria) adalah ukuran kinerja yang menggunakan berbagai macam ukuran , untuk
memperhitungkan bobot masing-masing ukuran dan menghitung rataratanya sebagai
ukuran yang menyeluruh kinerja manajer. Kriteria gabungan ini dilakukan karena
perusahaan menyadari bahwa beberapa tujuan lebih penting dibandingkan dengan
tujuan yang lain, sehingga beberapa perusahaan memberikan bobot angka tertentu
pada beragam kriteria untuk mendapatkan ukuran tunggal kinerja manajer.
C. PENGEMBANGAN
USAHA
Pengembangan usaha biasa dilakukan
dengan beberapa teknik, salah satunya yaitu melalui perluasan cakupan usaha.
Tulisan ini akan menjelaskan mengenai teknik pengembangan usaha melalui
perluasan cakupan usaha.
Pengembangan cakupan usaha baru sering
juga dinamakan diversifikasi usaha. Saat ini, diversifikasi usaha dilakukan
pada suatu bidang saja, misalnya di bidang pertanian disebut agroindustri,
agrowisata, agrobisnis dan macam-macam diversifikasi lainnya. Di bidang jasa
diversivikasi juga dilakukan, misalnya usaha jasa angkutan kota diperluas
dengan jasa angkutan pariwisata.
Usaha join venture merupakan salah satu
cara pengembangan usaha dengan menambah cakupan usaha. Join venture merupakan
bentuk kerjasama antara perusahaan domestic dengan perusahaan asing. Pemerintah
berwenang untuk mengetahui dan menyetujui perjanjian umum dan khusus antar
pihak yang berjoin venture. Proses join venture dilakukan dengan perantara
perwakilan perusahaan asing dan konsultan-konsultan. Pada proses terjadinya
join venture, pihak-pihak yang terlibat ialah pabrik-pabrik merk luar negeri,
agen tunggal, distributor dan lain-lain.
Dalam menambah cakupan usaha terdapat
beberapa cara yang dapat dilakukan yaitu trust, holding company, sindikat dan
Kartel. Trust adalah suatu bentuk organisasi perusahaan yang didirikan untuk
menghindari kerugian masing-masing anggota dan memperbesar keuntungan
perusahaan. Trust dibentuk dengan menggabungkan beberapa perusahaan (merger)
menjadi satu dan masing-masing perusahaan yang bergabung telah melebur diri
(fusi), sehingga gabungan dari perusahaan-perusahaan itu menjadi sebuah
perusahaan besar. Trust dapat mengeluarkan saham dan obligasi. Adapun yang
disebut dengan holding company yaitu sebuah perusahaan yang memiliki kondisi
keuangan yang kuat dan dapat memiliki perusahaan-perusahaan lain dengan membeli
saham-sahamnya.
Perusahaan yang telah dibeli
saham-sahamnya tersebut tidak lagi memiliki kekuasaan apa-apa dan semua kebijakan
ditentukan oleh jolding company. Jadi, telah terjadi pengambilan kekayaan
maupun kekuasaan dari perusahaan tersebut kepada holding company. Sedangkan
sindikat merupakan kerjasama antar beberapa orang untuk melaksanakan proyek
khusus di bawah satu perjanjian. Biasanya hanya terbatas pada bidang keuangan,
yang dilakukan oleh kelompok investor untuk mengombinasikan sumber-sumber
keuangan mereka, untuk menjualbelikan surat-surat berharga dari suatu
perusahaan. Adapula yang disebut dengan kartel.
Kartel ini hampir sama dengan sindikat.
Kartel merupakan persekutuan antara beberapa perusahaan sejenis di bawah satu
perjanjian tertentu. Masing-masing perusahaan tetap berdiri sendiri, memiliki
kedudukan sama dan sewaktu-waktu dapat membatalkan perjanjiannya yang telah
disetujui bilamana diinginkan. Mereka terikat pada semua perjanjian, tetapi
diluar itumereka bebas. Ada beberapa jenis kartel yaitu kartel daerah, kartel
produksi, kartel kondisi, kartel pembagian laba dan kartel harga.
Kartel daerah yaitu masing-masing
perusahaan membagi daerah pemasaran yang boleh dikuasainya. Salah satu
perusahaan tidak boleh menjual barangnya ke daerah lain. Kartel produksi, yaitu
perusahaan mengadakan perjanjian untuk menentukan luas produksi masing-masing.
Kartel kondisi, yaitu perjanjian yang mengatur syarat-syarat penjualan termasuk
syarat penyerahan barang, tempat, penjualan tunai dan kredit, pemberian
potongan dan sebagainya.
Kartel pembagian laba, yaitu perjanjian
dalam menentukan besarnya laba yang diterima oleh masing-masing anggota. Laba
dibagi berdasarkan besarnya volume penjualan yang dicapai oleh masing-masing
anggota. Sedangkan kartel harga merupakan perjanjian yang diadaka untuk
menentukan harga minimum dari barang-barang yang dijual, sehingga bentuk ini
dapat mengurangi persaingan harga diantara para anggota.
Pembahasan di atas telah menunjukkan
bahwa pengembangan usaha dapat dilakukan melalui perluasan cakupan usaha dengan
mengembangkan jenis usaha baru dan wilayah usaha baru, serta jenis produk
barang dan jasa baru yang bervariasi jenisnya.
Pengertian
Pengembangan Usaha :
Pengembangan usaha adalah ”Tugas dan
proses persiapan analitis tentang peluang pertumbuhan potensial, dukungan dan
pemantauan pelaksanaan peluang pertumbuhan usaha, tetapi tidak termasuk
keputusan tentang strategi dan implementasi dari peluang pertumbuhan usaha “ .
Sedangkan untuk usaha yang berskala
besar dan mapan , terutama di bidang teknologi industri yang terkait
“Pengembangan usaha” istilah yang sering mengacu pada pengaturan dan mengelola
hubungan strategis dan aliansi dengan yang lain, perusahaan pihak ketiga.
Dalam hal ini perusahaan dapat
memanfaatkan satu sama lain keahlian , teknologi atau kekayaan intelektual
untuk memperluas kapasitas mereka untuk mengidentifikasi, meneliti,
menganalisis dan membawa ke pasar bisnis baru dan produk baru, pengembangan
bisnis berfokus pada implementasi dari rencana bisnis strategis melalui ekuitas
pembiayaan, akuisisi / divestasi teknologi, produk, dan lain – lain .
Tingkatan
Dalam Pengembangan Usaha
Jadi, pengembangan usaha memiliki
tingkat yang berbeda. Level atau tingkatan tersebut menjadi produk, komersial
dan korporasi.
Berikut ini akan dijelaskan
tentang tingkatan – tingkatan yang ada pada pengembangan usaha yaitu :
1. Tingkat Produk .
Pada level produk pengembangan usaha
berarti mengembangkan produk atau teknologi baru. Meskipun tingkat pengembangan
dapat berbeda dari perusahaan ke perusahaan. Tingkat perkembangan usaha dibagi menjadi satu kategori yaitu :
Perkembangan incremental.
Perkembangan Incremental adalah
perkembangan yang meningkatkan fungsi yang ada platform atau teknologi,
sementara pengembangan mengganggu atau terputus-putus benar-benar hal baru yang dikembangkan dari awal. Misalnya
dari pembangunan berkelanjutan adalah tambahan ekstensi untuk produk yang sudah
ada seperti baru baru ini untuk sampo, kamera digital dengan pixel 5MIO untuk
ponsel anda. Dalam kedua kasus platform ponsel, shampo dan mobile tetap sama.
2. Tingkat Komersial .
Dalam contoh bentuk pengembangan usaha
di tingkat komersial berarti prospeksi murni et Dur. Ini berarti berburu
pelanggan baru di segmen pasar yang baru.
Dengan demikian pekerjaan ini
memerlukan individu secara psikologis yang kuat dan yang sangat didorong mampu
menangani banyak masalah.
Tingkat berikutnya dari pengembangan
usaha komersial adalah saluran atau
setup organisasi penjualan. Saluran atau organisasi penjualan dapat
terdiri dari mitra , agen seperti,
distributor, pemegang lisensi,franchisee, atau cabang anda sendiri nasional
atau internasional. Dan terakhir tingkat
pengembangan usaha komersial adalah tingkat
rantai nilai. Pada pengembangan rantai nilai tingkat usaha
adalah tentang mengembangkan penawaran produk secara keseluruhan.
Anda akan menemukan jenis pengembangan
usaha / bisnis di perusahaan –
perusahaan teknologi yang telah
mengembangkan platform yang harus diintegrasikan atau dikombinasikan dengan teknologi lain atau
platform untuk membentuk seluruh produk.
Sebuah seluruh produk umumnya
terdiri dari beberapa teknologi untuk membuatnya menjadi hidup. Sebuah
teknologi pada umumnya tidak dikembangkan oleh satu perusahaan tapi bersumber
dari orang lain yang bertujuan untuk menghemat waktu dalam proses usaha .
3. Tingkat Korporasi .
Bila organisasi harus memutuskan apakah
akan membuat atau membeli kompetensi organisasi tertentu Kita memasuki bidang
pengembangan bisnis perusahaan . Fokusnya adalah bukan pada produk maupun
komersial tingkat tetapi pada korporasi tingkatan usaha. Dan pada intinya
tingkat pengembangan usaha ini adalah
tentang merger & akuisisi (M & A), usaha patungan (JV), saham langsung
investasi (DEI) dan aliansi strategis.
Ini berkaitan dengan analisa bisnis
portofolio, keuangan perusahaan, hukum kontrak, hukum pajak, hukum sosial, anti
– kepercayaan hukum, manajemen perubahan dan manajemen
budaya.
Unsur
– Unsur Dalam mengembangkan Usaha
Adapun unsur – unsur penting dalam
mengembangkan usaha ada 2 yaitu :
1. Unsur yang berasal dari dalam (
pihak internal ) :
· Adanya niat dari si pengusaha / wirausaha
untuk mengembangkan usahanya menjadi lebih besar.
· Mengetahui teknik memproduksi barang
seperti berapa banyak barang yang harus diproduksi , cara apa yang harus
digunakan untuk mengembangkan barang /
produk , dan lain – lain.
· Membuat anggaran yang bertujuan
seberapa besar pemasukkan dan pengeluaran produk .
2. Unsur dari pihak luar ( Pihak
eksternal) :
· Mengikuti perkembangan informasi dari
luar usaha.
· Mendapatkan dana tidak hanya
mengandalakan dari dalam seperti meminjam dari luar.
· Mengetahui kondisi lingkungan sekitar yang
baik / kondusif untuk usaha .
Aspek
– Aspek Yang Diperhatikan Dalam Mengembangkan Usaha
Pengembangan usaha yang terdiri dari
aspek strategi , manajemen pemasaran, dan penjualan, seperti :
Aspek
strategi contohnya :
-
Meneliti
jenis usaha baru dengan penekanan pada mengidentifikasi kesenjangan (yang ada
dan / atau diharapkan) oleh konsumen .
-
Menciptakan
pasar baru .
-
Menciptakan
produk baru dengan karakteristik yang menarik konsumen
-
Aspek
manajemen pemasaran contohnya :
-
Menembus
dan menguasai pangsa pasar .
-
Mengolah
situasi / peluang pasar yang ada dengan
teliti.
-
Memasarkan
produk dengan jaringan yang luas seperti
impor produk ke luar negeri.
-
Membuat
strategi pemasaran yang dapat membuat konsumen membeli produk kita , seperti
memasang iklan , brosur, dan lain-lain.
Aspek
penjualan contohnya :
-
Memberikan
saran tentang perancangan dan menegakkan kebijakan penjualan dan proses tindak
lanjut penjualan .
-
Banyak
volume produk yang akan dijual.
-
Tingkat
keamanan dalam proses penjualan barang.
-
Menjual
produk dengan harga yang terjangkau dan memiliki kualitas yang baik.
Kategori
Produk Baru
Kategori produk yang baru serta mengapa
dilakukan pengembangn usaha, adalah :
1) Benar
– benar baru
Adalah
produk yang benar-benar hasil inovasi dan baru bagi perusahaan serta
menciptakan pasar yang benar-benar baru.
2) Lini
produk baru
Adalah
produk yang bagi perusahaan tetapi tidak bagi pasar karena sudah ada produk
serupa di pasar.
3) Tambahan
untuk lini produk yang sudah ada
Merupakan
tambahan atau supplement item atau varian dari produk-produk lini dari suatu perusahaan yang ada. Produk ini dapat
merupakan agak baru bagi perusahaan
maupun bagi pelanggan dari produk yang sudah ada. Atau juga dalam upaya
untuk memperluas segmen pasar dari produk yang ada.
4) Perbaikan
atau revisi dari produk yang ada
Jenis
produk baru yang merupakan perbaikan atau memperbaiki kinerja sehingga
memeprbaiki kinerjanya sehingga memperbaiki persepsi pelanggan, dari produk
lamanya. Lebih merupakan hal baru bagi perusahaan termasuk akibat dari generasi
teknologi baru bagi suatu produk, dan
biasanya di persepsi sama dengan produk lama yang digantinya.
5) Reposisi
Adalah
produk lama yang ditargetkan untuk aplikasi baru dan segmen pasar baru.
6) Penurunan
biaya
Merupakan
modifikasi produk dengan kinerja yang sama tetapi dengan biaya yang lebih rendah.
Analisa
Masalah Dan Solusi Dalam Mengembankan Usaha
Adapun analisa masalahnya adalah:
1.
Faktor
kurangnya permodalan.
Permodalan merupakan faktor utama yang
diperlukan untuk mengembangkan suatu unit usaha. Kurangnya permodalan UKM, oleh
karena pada umumnya usaha kecil dan menengah merupakan usaha perorangan atau
perusahaan yang sifatnya tertutup, yang mengandalkan modal dari si pemilik yang
jumlahnya sangat terbatas, sedangkan modal pinjaman dari bank atau lembaga
keuangan lainnya sulit diperoleh karena persyaratan secara administratif dan
teknis yang diminta oleh bank tidak dapat dipenuhi
2.
Kesulitan
dalam pemasaran produk .
Kesulitan memasarkan produk dapat
berakibat berlebihnya penyimpana prodik di gudana atau over produk. Sehingga
tidak ada pemasukkan bagi si pengusaha.
3.
Persaingan
usaha yang semakin ketat .
Persaingan usaha yang semakin ketat
mendesak para pengusaha bersaing dengan pengusaha lainnya , hal ini jika tidak
diantisipasi maka pengusaha yang kalah bersaing akan mengalami gagal produk .
4.
Kesulitan
bahan baku .
Kesulitan dalam bahan baku adalah
faktor yang sangat vital dalam proses pengembangan usaha . Jika tidak ada bahan
baku maka akan dipastikan secara perusahaan tidak bisa melakukan kegitan
usahanya.
5.
Kurangnya
keahlian teknis dan tenaga ahli.
Adapun
solusinya adalah :
· Modal dapat diperoleh bukan hanya dari
dalam tetapi bisa juga dari luar seperti dari pinjaman bank , hibah , dan
sebagainya.
· Membuat saluran pemasaran yang luas
seperti memasarkan barang tidak hanya di dalam negeri saja tetapi jika bisa
diekspor ke luar negeri. Dengan begitu produk kita akan mlebih mudah dikenal
oleh masyarakat.
· Menerapkan strategi usaha diantaranya
seperti yang telah dibahas sebelumnya seperti menerapkan strategi penjualan
contonhnya membuat diversikiasi produk , menemukan produk baru dan sebagainya.
· Membuat lokasi usaha dengan
mempertimbangkan mudahnya memperoleh suatu bahan baku untuk mengembangkan usaha
atau dengan kata lain memilih lokasi yang strategis dalam usaha.
· Merekrut tenaga ahli dengan cara
melakukan seleksi yang ketat kepada calon pelamar di perusahaan anda , dengan
demikian anda bisa mendapatkan tenaga yang benar – benar ahli dibidangnya.
KESIMPULAN
· Kinerja adalah suatu usaha formal yang
dilaksanakan perusahaan untuk mengevaluasi efisien dan efektivitas dari
aktivitas perusahaan yang telah dilaksanakan pada periode waktu tertentu.
· Ada tiga macam ukuran yang dapat
digunakan untuk mengukur kinerja secara kuantitatif yaitu: Ukuran kriteria
tunggal, Ukuran kriteria beragam, Ukuran kriteria gabungan.
· Usaha join venture merupakan salah satu
cara pengembangan usaha dengan menambah cakupan usaha.
· Jika kita ingin organisasinya
berkembang maka kita harus memperluas wilayah organisasi dengan cara membuat
perusahaan baru atau cabang dari perusahaan yang kita buat yang dapat diterima
masyarakat luas, dan memperbanyak kerjasama demi tercapainya tujuan individu
dan perusahaan.
DAFTAR
PUSTAKA
http://dwiermayanti.wordpress.com/2009/10/15/kinerja-keuangan-perusahaan/
http://anggitriutami.blogspot.com/2013/07/bagaimana-perkembangan-usaha-kecil-dan.html
https://www.google.co.id/urlsa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0CBwQFjAA&url=http%3A%2F%2Fharrisfadilah.wordpress.com%2F2012%2F04%2F17%2Fpengembangan-usaha%2F&ei=1HqyU5CaLIeMuATFioCYDw&usg=AFQjCNH4gX6kK3_LGEkNXWQjuCCRsrCgLQ
http://prasetyopwt.blogspot.com/2012/12/pengembangan-usaha.html
http://pustakamirzan.blogspot.com/2010/11/tingkatan-dalam-pengembangan-kurikulum.html
http://duniafajarwati.wordpress.com/2012/12/26/unsur-unsur-dan-bentuk-pengembangan-masyarakat/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar